Wednesday, May 30, 2007

Refleksiku (lanjutan)

Semangat 3C (Competence, Compassion, Conscience) yang menjadi semangat andalan Kolese ini hendaknya dengan penuh kesadaran dan kedisiplinan terus-menerus ditegakkan. Hal yang membanggakan saya adalah, diantara banyaknya sekolah-sekolah yang kini muncul dengan label dan penawaran: “sekolah plus”, ber-fasilitas AC, “kurikulum internasional” dan sebagainya, Kolese ini tetap mampu berpijak pada Visi dan Misi Kolese dengan semangat 3C-nya. Suatu penawaran nilai-nilai yang belum tentu/tidak dimiliki oleh semua sekolah. Semangat 3C tidak semata-mata ditujukan bagi anak tetapi juga menjadi semangat semua unsur yang ada di Kolese ini baik unsur organik maupun non organik. Anak-anak dituntut untuk dapat menghidupi semangat tersebut, waktu belajar mereka pendek (hanya tiga tahun) artinya; mereka akan banyak belajar dari melihat dan meniru perilaku guru, pimpinan dan semua orang yang seharusnya sudah lebih mendarah daging menghidupi semangat 3C tersebut. Kedisiplinan, kerajinan dan kejujuran di sekolah hendaknya tetap dijunjung tinggi. Pendekatan secara personal terhadap anak-anak kiranya perlu dilakukan baik oleh semua guru. Visi dan Misi Kolese yang ingin menjadikan anak-anak sebagai calon pemimpin di masa depan tidak hanya diterjemahkan menjadikan mereka “pandai” saja. Seorang pemimpin memang harus pandai tetapi juga harus “dewasa” dalam sikap, prilaku dan emosional mereka. Yang saya masksudkan disini adalah supaya Kolese sebagai sebuah institusi pendidikan jangan sampai terjebak hanya pada segi akademis saja tetapi juga memajukan nilai-nilai non akademis. Agar cita-cita untuk mewujudkan citra Kolese ini kembali dapat terwujud.

Melihat relasi antar guru di SMP Kanisius saya rasa sudah baik. Tidak ada senioritas yang saya rasakan. Sedikit demi sedikit saya pelajari karakter teman-teman, dan perlahan-lahan saya mulai tahu karakter masing-masing (sebatas yang dapat saya tangkap dari perjumpaan selama ini dengan mereka). Saya belajar banyak hal dari teman-teman guru. Sikap saling memperhatikan, menghormati, menghargai masih kental terasa diantara teman-teman. Walaupun kadang kelakar yang berlebihan sehingga tak terpikirkan apakah itu tepat atau tidak untuk diungkapkan, menyinggung perasaan atau tidak kadang terungkap dalam perjumpaan di sekolah. Atau mungkin tidak berani mengungkapkan dan justru menjadikannya bahan pembicaraan sambil berbisik-bisik. Masing-masing karakter punya kekhasan yang unik. Tapi satu hal yang membanggakan saya, teman-teman mempunyai semangat, ide/gagasan dan pandangan-pandangan yang baik untuk kemajuan pendidikan di Kolese ini. Tinggal bagaimana semua itu dapat dikomunikasikan dan dipadukan dengan system yang ada di Kolese ini.

Pergantian pimpinan (yayasan) di Kolese ini (walaupun baru sekali saya alami) ternyata juga mempengaruhi pola/kebijakan yang ada. Amat disayangkan jika pola/kebijakan yang sudah ada hilang/terlupakan begitu saja ketika ada pergantian pimpinan. Sebagai suatu institusi pendidikan yang sudah lama berdiri (dari tahun 1927) ternyata PUK (peraturan umum kepegawaian) baru dimiliki sekarang, sesuatu yang boleh dikatakan terlambat tetapi baik jika itu dimaksudkan untuk menata Kolese ini menjadi lebih baik.

Saya sungguh senang boleh belajar banyak dikolese ini. Banyak idealisme yang ingin saya kembangkan, dan besar keinginan untuk terus belajar bersama semua teman-teman rekan guru dan siapa saja yang ada di kolese ini.

Refleksi Tahun Pertamaku Mengajar

Tahun-tahun pertama mengajar di Kolese ini saya harus belajar banyak hal. Anak-anak yang homogen dengan kemampuan akademik yang teruji dan tersaring dengan baik melalui tes masuk sempat membuat saya ciut nyali. Saya harus belajar lebih banyak lagi untuk mengimbangi anak-anak. Hal yang menggembirakan adalah teman-teman guru yang baik, menerima dan mendukung saya. Rasa senioritas tidak saya jumpai diantara relasi dengan teman-teman guru, hal ini mendukung saya untuk lebih cepat merasa kerasan. Pengalaman mengajar sebelumnya sedikit banyak membantu saat perjumpaan pertama kali saya dengan anak-anak di kelas. Kesulitan dalam mengajar bukan pada bahan pelajarannya tetapi lebih banyak saya rasakan bagaimana saya harus mampu beradaptasi dengan siswa yang nota bene mereka anak-anak Jakarta “era jaman modern” dengan latar belakang ekonomi keluarga yang mayoritas bisa dikatakan menengah keatas. Memahami taraf perkembangan mereka tidak harus berprilaku seperti mereka, minimal saya tahu informasi terkini dari apa yang mereka ketahui itu sudah dapat menjadi bahan pembicaraan dengan mereka, agar saya lebih dekat dan memahami mereka. Ternyata ini bukan hal yang mudah, begitu banyak dan beraneka ragam karakter anak yang saya jumpai. Tidak mungkin saya dapat memahami mereka semua secara penuh, tetapi bagaimana karakteristik mereka, saya dapat ketahui dan pelajari dengan seringnya berinteraksi dengan mereka di kelas dan di luar kelas. Sosok anak adalah sosok yang dapat dibilang polos, mereka lebih objektif dalam menilai sesuatu, salah satunya dalam menilai guru-guru mereka. Hal ini dapat dilihat saat mereka mengomentari guru-guru mereka baik secara langsung maupun tidak langsung dalam obrolan saat mereka istirahat. Kadang saya pun bertanya-tanya pada diri saya sendiri; bagaimana penilaian mereka terhadap saya? cara mengajar saya? Di awal dan akhir semester, biasanya saya minta anak-anak untuk memberikan masukan, kritik dan saran mereka mengenai system pengajaran saya selama semester lalu, banyak masukan yang saya peroleh. Melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan yang melibatkan anak-anak (Pramuka, OSIS, Live In dsb) menjadi salah satu sarana yang baik bagi saya untuk mengenal karakter anak-anak. Saya belajar banyak hal dari sana; belajar menghadapi, memimpin, dan mengelola baik dari anak-anak ataupun teman-teman guru sendiri.